Jumat, 31 Desember 2010

IGOS

MASALAH software atau perangkat lunak untuk ukuran Indonesia tampaknya memang menjadi sebuah permasalahan sendiri. Kita menjadi ragu-ragu untuk menentukan pilihan perangkat lunak yang tepat dan murah, serta menjadi solusi buat mendukung bisnis yang kita lakukan, khususnya usaha kecil dan menengah.


Ketika pemerintah mencanangkan IGOS (Indonesia Goes Open Source) tahun 2004 lalu, banyak hal yang diharapkan dari upaya pencanangan ini. Di Indonesia, upaya untuk mendukung penggunaan perangkat lunak berbasis Linux dilakukan secara ”malu-malu” tidak mau menyinggung Microsoft yang menguasai pangsa pasar sistem operasi dunia seperti Windows dan aplikasi perkantoran yang dikenal sebagai perangkat Office.


Kita memahami upaya pemerintah untuk memberikan alternatif pilihan penggunaan perangkat lunak antara Linux dan Windows. Yang selalu menjadi pertanyaan buat kita adalah apa sasaran yang ingin dicapai dengan pencanangan kembali IGOS ini.

Kita sendiri berharap IGOS tidak hanya berhenti pada slogan, tapi menjadi jawaban bagi Indonesia menghadapi pesatnya kemajuan teknologi komunikasi informasi. Kita juga berharap IGOS memiliki dampak yang luas, menjadi pilihan menarik yang mudah dan murah mengisi interaksi kita dengan kemajuan teknologi komunikasi informasi.